| Seorang Mukmin Lebih Baik daripada Berita Baik tentangnya |
|
|
|
| Ditulis oleh Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra | |
|
A’uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulillahi robbil ‘alaamin Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma'in. Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq. [Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra] Seorang Mukmin Lebih Baik daripada Berita Baik tentangnya Seorang Mukmin yang bersih jiwanya—dalam kenyataannya pasti lebih baik dan lebih indah daripada berita dan sebutan tentangnya, betapapun baiknya berita dan sebutan mengenai dirinya itu. Setiap kali Anda lebih mengenali dan lebih sering bergaul dengannya, makin besar pula kecintaan dan penghormatan Anda kepadanya. Hal itu disebabkan sifat-sifat baik yang Anda saksikan dalam persahabatan dan pergaulan dengannya berupa penghampiran dirinya kepada Allah Azza wa Jalla, pengagungannya akan perintah-perintah- Nya, kesegeraannya dalam mencari ridha-Nya, kerajinannya dalam ketaatan kepada-Nya, penjauhan dirinya dari segala pembangkangan terhadap-Nya, serta kesangatannya dalam menjaga diri dari segala penyebab murka-Nya. Sebaliknya, kenyataan seorang munafik yang durjana lebih buruk daripada berita dan sebutan tentangnya betapapun buruknya keduanya itu. Setiap kali Anda lebih mengenali dan lebih sering berhubungan dengannya, makin besar pula kebencian Anda kepadanya. Hal itu disebabkan sifat-sifat buruknya serta perilakunya yang selalu mengabaikan perintah-perintah Allah, bersegera dalam perbuatan-perbuatan yang dimurkai-Nya, bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, serta menelantarkan pekerjaan yang diwajibkan oleh-Nya. Dengan uraian kami itu, Anda dapat mengetahui bahwa kenyataan seorang Mukmin lebih utama dan lebih baik daripada berita-berita mengenai dirinya. Dan, kebalikannya bagi seorang munafik. Dengan pengertian yang hampir sama dengan itu pula, hendaknya Anda menilai para pemegang kedudukan tinggi, baik di bidang keagamaan seperti kaum ulama dan shedihin maupun di bidang keduniawian seperti para raja dan sultan. Jika yang paling dekat berhubungan dengan mereka sendiri dari orang-orang yang paling patut dan baik, hal itu menunjukkan adanya kebaikan dan kepatutan pada diri para pemegang kedudukan itu. Namun, jika orang-orang yang paling jauh hubungannya dari para pejabat itu justru terdiri dari orang-orang yang memiliki kebaikan dan kepatutan, hal itu menjadi petunjuk akan kurangnya kebaikan, kepatutan, dan kelurusan para pemegang jabatan tinggi itu. Mungkin sekali—ditinjau dari arah pribadi para pejabat itu—hal itu disebabkan kekurangan-kekurang an pada diri mereka, baik kurangnya kecakapan dalam menangani tugas-tugas yang mereka emban atau karena kelalaian maupun penyibukan diri dengan hal-hal yang kurang utama dan kurang perlu mereka lakukan. Makin sedikit sifat-sifat kebaikan dan kelurusan pada orang-orang yang paling jauh dari para pejabat itu, dan—sebaliknya makin banyak kepatutan dan kebaikan pada orang-orang yang paling dekat kepada mereka, merupakan petunjuk akan adanya kebaikan, kepatutan, dan kelurusan para pejabat itu. Meski tidak berarti mereka sama sekali terhindar dan kurang cukupnya kemampuan untuk mengemban tugas-tugas mereka, atau adanya kelengahan dalam membuat evaluasi keadaan, serta kurangnya perhatian yang mereka curahkan terhadap seluk-beluk jabatan tersebut. Atau, mungkin pula disebabkan adanya perluasan daerah dan pertambahan jumlah penduduk atau lainnya seperti yang diisyaratkan dalam ucapan Amirul Mukrninin 'Umar bin Al-Khaththab r.a. pada akhir masa kekhalifahannya, "Ya Allah, telah lanjut usiaku, telah berkurang kekuatanku, dan telah bertebaran rakyatku, maka wafatkanlah aku dalam keadaan selamat dan segala cobaan atau menjadi telantarkan. " Pernah pula Sayidina Umar r.a. berkata, "Sekiranya seekor anak domba mati telantar di tepi Sungai Furat (maksudnya di tempat yang jauh dari pusat pemerintahan—penerj. ), aku khawatir dimintai pertanggungjawabannya." Menjadi jelas dan uraian kami di atas bahwa jabatan-jabatan yang besar dan daerah-daerah yang luas tidaklah patut dan layak dipegang oleh orang-orang yang tidak memiliki kecakapan dan kearifan untuk mengelola dan meneliti semua yang terjadi di dalamnya. Dan, mungkin inilah yang menyebabkan banyak dan para tokoh besar dalam agama menjauhkan diri dari jabatanjabatan yang tinggi karena lebih mengutamakan keselamatan diri, yang merupakan "salah satu dan dua keberhasilan" sebagaimana pernah diisyaratkan oleh Nabi Saw, "Satu jiwa yang kauhidupkan lebih utama daripada kerajaan yang tak mampu kau hitung." Maksudnya, kekuasaan yang tak mampu kautangani dengan baik. Wallahu ‘alam. Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!! |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|















