| Pertemuan di alam Ruh & Rahasia Pertemuan |
|
|
|
| Ditulis oleh Habib Umar bin Hafidz bin Syeikh Abu Bakar | |
|
Segala puji bagi Allah yang telah mengatur pertemuan kita ini pada waktu dan tempat yang penuh berkah. Allah SWT menjadikan pertemuan sebagai pusat curahan keistimewaan robbaniyah dan inayah ilahiah.
Untuk itulah Allah menetapkan pertemuan di alam arwah. Dijelaskan dalam Quran, bahwa Allah mengeluarkan anak cucu Adam dari sulbinya, kemudian mengumpulkan mereka di lembah Nu'man yang berdampingan dengan Arofah. Di lembah inilah Allah bermurah memperdengarkan suara-Nya kepada kita semua, anak-cucu Adam, dan menyingkap tirai yang menghijab kita dari Dia. Sehingga ketika Allah memanggil kita, ruh kita mampu mendengar panggilan-Nya. Dan ingatkah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka lalu Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul, (Engkau Tuhan kami)." (QS Al-A'raf, 7:172) Para ulama mengatakan, bahwa pada waktu yang penuh berkah itu terjadilah perkenalan antar-ruh. Perkenalan sesama ruh di alam itu menyebabkan perkenalan mereka di alam dunia. Siapa saja yang saling mengenal di alam itu, maka di alam dunia pun akan saling mengenal. Mereka tidak akan mencintai seseorang karena Allah, kecuali di sana mereka telah lebih dahulu saling mengenal. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW dalam sabdanya: Ruh adalah bala tentara yang berjenis-jenis. Yang saling mengenal akan bersatu, dan yang saling bermusuhan akan berselisih. (HR Bukhari dan Muslim) Ruh-ruh yang saling mengenal pada hari diambilnya kesaksian, akan hidup rukun di dunia. Dan ruh-ruh yang pada hari itu saling bermusuhan, di dunia pun akan berselisih paham. Ada yang kafir, ada yang fasik dan ada pula yang taat. Mereka tidak bisa bersatu, karena pada hari itu mereka tidak bersatu. Di alam itu mereka tidak bertemu dan tidak bersesuaian paham. Jika seseorang mencintai orang lain tulus karena Allah, maka sampaikanlah berita gembira kepadanya, bahwa sesungguhnya Allah-lah yang telah mempersiapkan perkenalan mereka sejak di alam arwah. Merekalah orang-orang yang kelak di hari kiamat akan dipanggil Allah, dan Allah sekali lagi akan memperdengarkan panggilan itu kepada seluruh makhluk: "Manakah orang-orang yang saling mencintai demi keagungan-Ku? Manakah orang-orang yang saling mengunjungi karena-Ku? Manakah orang-orang yang saling berkorban karena Aku? Hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan arsy-Ku, di hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku." (Muslim meriwayatkan dengan muatan lebih ringkas) Rasa bahagia berjumpa dengan kalian menuntunku untuk membicarakan topik ini. Mengapa? Karena pertemuan kita ini memiliki hubungan dengan pertemuan ahli irtiqoo`. Kemampuan kita untuk mengetahui berbagai nur dan nilai yang ada sejak zaman Nabi SAW adalah berkat perjumpaan dengan beliau. Orang-orang yang berjumpa dengan beliau adalah orang-orang yang mendapat kehormatan, keistimewaan dan kemuliaan. Mereka lebih utama dari yang lain. Kita temukan bahwa atsar beliau terletak pada orang yang telah bertemu dengan beliau, para tabi'in memperoleh kemuliaan karena berjumpa dan bergaul dengan para sahabat, dan para tabi'it tabi'in memperoleh kemuliaan karena berjumpa dan bergaul dengan para tabi'in, demikian seterusnya. Dahulu, apabila kaum Muslimin hendak pergi berjihad, mereka bertanya, "Adakah di antara kalian yang pernah melihat Rasulullah?" Jika ada, maka mereka mengharapkan kemenangan berkat orang itu, dan mereka pun lalu menang. Suatu saat, meski masih dekat dengan masa para sahabat, tidak ada satu pun sahabat yang tersisa, yang ada hanyalah para tabi'it tabi'in dan beberapa orang tabi'in . Mereka bertanya, "Adakah di antara kalian yang pernah melihat orang yang pernah melihat Rasulullah SAW?" Jika dijawab: ya, maka, sebagaimana biasa, mereka mengharapkan kemenangan berkat orang itu, dan mereka pun lalu menang. Kisah ini menunjukkan bahwa manfaat perjumpaan terus berlangsung; berpindah dari generasi ke generasi. Beruntunglah orang yang pernah melihat mereka atau melihat orang yang pernah melihat mereka atau selalu memiliki ikatan dengan mereka dan selalu berada di ambang pintu mereka. Pertemuan memang penuh misteri. Karena itulah kita lihat banyak wali yang telah siap untuk mencapai tingkatan tinggi bila ditanya, "Apa yang kamu miliki?" Mereka menjawab, "Aku berjumpa fulan bin fulan hari ini, ia berkata kepadaku demikian." Setelah perjumpaan itu kedudukan mereka meningkat.Dikatakan bahwa Habib Ali bin Muhammad berjumpa dengan syeikhnya, Imam Abu Bakar Alatas, hanya dalam hitungan jari, namun buah perjumpaan itu, nafahat dan barokahnya - tak terhitungkan. Makrifat kepada Allah tercermin pada setiap perkenalan karena Allah. Dan cinta kepada Allah tercermin pada cinta karena Allah. Bagaimana bisa demikian? Jika kalian mencintai seseorang karena Allah, maka perasaan cinta itu akan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah. Pada saat cinta kalian karena Allah meningkat, maka cinta Allah kepada kalian pun meningkat. Kemudian, jika kalian lebih banyak mengenal dan mencintai Allah, maka cinta kalian karena Allah juga menjadi lebih banyak dan lebih kuat. Jika cinta kalian kepada Allah bertambah kuat, maka cinta Allah kepada kalian juga bertambah kuat. Jika cinta kalian kepada Allah bertambah, maka cinta kalian kepada seseorang karena Allah juga akan semakin kuat. Dan jika kalian semakin mengenal Allah, maka makrifat kalian kepada seseorang karena Allah juga akan bertambah luas. Karena itulah kita menyaksikan jalinan hubungan yang kuat dan kokoh antara murid dan guru, antara penerima dan pemberi, antara quthub dan guru-guru mereka. Sehingga kita mendengar cerita yang mengagumkan tentang mereka, yaitu jika nama guru mereka disebut, maka kesedihan dan kesulitan mereka hilang. Mereka seakan berada di alam lain, memasuki medan lain, Jika kedekatan dan perjumpaan dengan kekasih tak dapat kujalani, maka dalam mengenang mereka kuperoleh pelipur duka di hati Alhamdulillah, Allah telah memberi kalian berbagai keistimewaan leluhur yang jarang ditemukan di muka bumi pada seluruh umat Muhammad SAW. Orang yang makrifat dan cintanya kepada Allah lebih banyak, maka makrifat dan cintanya kepada mereka pun akan lebih kuat. Rasulullah SAW bersabda: Ada tiga hal yang barang siapa memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman, (pertama) yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari segala sesuatu yang lain." Itulah puncak cinta dan kerinduan, karena arsy, kursi, firdaus, dunia, akhirat, keluarga, anak, langit dan bumi adalah segala sesuatu selain Allah dan Rasul-Nya. Cinta orang itu kepada Allah dan Rasul-Nya tidak boleh terbagi-bagi dengan cintanya pada dunia, langit, akhirat, surga, firdaus dan segala sesuatu selain keduanya. Inilah rahasia pertemuan. Mengapa demikian? Karena, jika pertemuan ini berlangsung sebagaimana mestinya, maka akan membuahkan pertemuan di hari kiamat, pertemuan di surga. Segala puji dan syukur bagi Allah yang telah mengumpulkan kita di sini. Insyaa Allah pertemuan kita ini terikat dengan pertemuan kaum sholihin. Janganlah kalian remehkan majelis-majelis seperti ini, karena setiap majelis memiliki keistimewaan tersendiri. Namun setan kerap kali datang dan memalingkan kalian dari majelis-majelis yang di situ terletak keuntungan dan keberhasilanmu. Ketika kalian akan meningkat, setan selalu berusaha memotong jalan kalian. Karena ia tahu, bahwa, jika pandangan dan rahmat Allah jatuh pada kalian, maka tanpa kalian sadari kalian akan memperoleh karunia dan meningkat. Kalian tidak tahu kapan karunia Allah akan dicurahkan, karena itu bangkitlah untuk menghadangnya, sehingga kalian dapat memperoleh lutf dan ampunan-Nya. Semoga Allah memuliakan kita dengan berbagai hakikat sehingga kita dapat menyusul kaum sholihin. Jika kalian memusatkan perhatian pada ilmu disertai usaha untuk mensucikan hati, maka bergembiralah, sebab, dengan membersihkan hati dari dendam, iri dan benci kepada kaum muslimin kedudukan kalian di sisi Allah akan meningkat. Dan dengan hati yang bersih kalian akan melihat satu demi satu pintu dihadapan kalian terbuka. Suatu hari Habib Ali berkata, "Dari gerbang yang satu sampai gerbang yang lain tak ada seorang pun yang bersengketa. Hari-hari kami di Seiwun berlalu tanpa permusuhan." Dahulu Seiwun mempunyai dua pintu gerbang, satu di bagian timur dan yang lain di barat. Alhamdulillah, lihatlah bagaimana pengaruh orang-orang yang mulia. Ketika Imam Abu Bakar bin Shihab- yang menuntut ilmu di Seiwun di zaman Habib Ali, Habib Muhsin bin Alwi dan orang-orang saleh yang setingkat dengan mereka - kembali ke Tarim, ia ditanya oleh penduduk Tarim. "Bagaimana kau dapati fulan bin fulan, fulan bin fulan, fulan..." tanya penduduk Tarim menyebut nama beberapa ulama Seiwun. "Aku dapati mereka seperti firman Allah:" Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam di hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan". (QS Al-Hijr,15:47) "Mereka orang-orang yang suci dan sempurna, tak sedikitpun ada permusuhan di antara mereka. Yang satu memberi pertolongan, yang lain mengambil manfaat. Yang satu bekerja, yang lain bertajarrud. Dan rahasia Tuhanku tak seorang pun mampu menghitungnya" Dahulu, ada seseorang memegang jabatan qodhi (hakim) di Syibam. Selama beberapa tahun tak ada seorang pun yang datang mengadu kepadanya. "Mengapa di antara kalian tak ada yang berkelahi, mengapa tak ada yang bersengketa," keluhnya suatu hari kepada penduduk kota. "Penghuni kota ini satu dengan lainnya telah didamaikan Quran," jawab mereka. "Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (QS Asy-Syuraa, 42:40) "Mereka tidak butuh kamu. Apa yang hendak kau hakimi jika mereka telah bersatu." Ia hanya duduk bengong setiap hari. Penampilannya seorang hakim, namun perbuatannya seperti penganggur. Setiap hari ia masuk kantor, meski tak ada seorang pun mengunjunginya. Setelah 14 tahun, datang dua orang menemuinya. "Ada apa?" tanya pak hakim. "Kami ada masalah," jawab salah seorang Tamunya. Alhamdulillah, selamat datang, selamat datang, selama bertahun-tahun aku merindukan kejadian ini. Kemarilah, duduklah, aku akan bertindak adil kepada kalian." Sang hakim bersiap-siap hendak memamerkan semua ilmunya, karena ini adalah kasus pertama yang akan ia adili selama 14 tahun masa bakti. "Nah, ceritakanlah persoalanmu!" "Aku membeli sebidang tanah dari orang ini. Dalam tanah itu ternyata ada harta karun emas. Pada harta itu terdapat tanda-tanda bahwa harta itu dari masa sebelum Islam yang berarti bahwa harta itu adalah rikaz." "Benar," kata pak hakim. "Kalau itu harta rikaz, maka sudah seharusnya menjadi milik pemilik tanah pertama. Aku lalu mendatanginya dengan membawa harta itu. Kukatakan kepadanya bahwa semua emas itu adalah miliknya. Namun, ia tidak mau menerima. Katanya ia telah menjual tanah itu kepadaku." "Aneh..., inikah pengaduanmu? Sekarang jawablah!" perintah pak hakim kepada tamunya yang lain. "Pak Hakim yang mulia, tanah itu berikut isinya telah kujual, jadi aku tidak berhak lagi atas harta itu. Sewaktu menjual aku tidak berkata, 'Kujual tanah ini tanpa harta karunnya.' Harta itu tersimpan dalam tanah yang telah kujual, maka sudah selayaknya harta itu menjadi milik si pembeli tanah." "Sungguh aneh..., inikah jawabmu?" "Ya." "Bagaimana pendapat kalian sekarang?" "Pak Hakim yang mulia, Engkau mengetahui syariat-syariat Allah. Ambillah harta ini dan gunakanlah," kata mereka berdua. Hmm...kalian hendak menyelamatkan diri dan membinasakan Pak Hakimmu, ya?! Tidak bisa begitu!" "Kalau begitu adililah kami." "Sabar..., bersabarlah..., kamu punya anak?" "Ya, aku punya seorang puteri." "Kamu?" "Aku punya seorang putera." "Baiklah, keluarkanlah 1/5 harta tersebut sebagai zakat karena itu adalah harta rikaz. Kemudian gunakanlah 4/5 sisanya untuk pernikahan putra-putri kalian. Sekarang pergilah kalian dari tempatku ini." Menakjubkan! Perhatikanlah pengaduan, pembelaan dan keputusan pak hakim. Subhanallah, Nabi SAW pernah menceritakan kejadian serupa yang dialami Bani Israil. Namun pada umat Muhammad SAW kejadiannya lebih menakjubkan lagi. Tiada keutamaan yang dialami umat terdahulu, kecuali dialami pula oleh umat ini, bahkan lebih menakjubkan lagi. Segala puji syukur bagi Allah yang telah memberikan kemuliaan ini. Insyaa Allah kita dapat menjadi orang-orang yang saling mencintai karena Allah, orang-orang yang bersaudara karena Allah. Semoga kebaikan ini tersebar di antara kalian. Wa min Allah at Tawfiq |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|




Untuk itulah Allah menetapkan pertemuan di alam arwah. Dijelaskan dalam Quran, bahwa Allah mengeluarkan anak cucu Adam dari sulbinya, kemudian mengumpulkan mereka di lembah Nu'man yang berdampingan 










