Panitia Qurban

 

 

Qurban

 

Member Login

Latest News

HADITH HARI INI
Custom Search

Designed by:
KD Kuas Digital
Pandangan Syaikh Sarafuddin Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Syaikh Sarafuddin   

“Penerus beliau, Grandsyaikh kita, Syaikh `Abdullah ad-Daghestani, menceritakan hal berikut dalam ceramahnya: Suatu ketika, dalam salah satu meditasiku, Syaikh Syarafuddin mendatangiku dan berkata mengenai kebesaran dan keistimewaan Shah Naqsyaband. Beliau memujinya dan mengatakan bagaimana Shah Naqsyaband akan memberikan perantaraan di Hari Pembalasan. Beliau berkata, ‘Jika seseorang melihat mata Shah Naqsyaband, dia akan melihat mata beliau berputar, bagian yang putih di hitam dan yang hitam di putih. Beliau bermaksud menyimpan kekuatan spiritualnya untuk Hari Pembalasan dan tidak menggunakannya di dunia ini”

“Pada Hari Pembalasan Syaikh Naqshbandi akan mengeluarkan cahaya dari mata kanannya, cahaya itu lalu mengelilingi banyak orang dalam perkumpulannya dan masuk kembali ke mata kirinya. Siapa pun yang berada dalam lingkaran itu akan masuk Surga dan terhindar dari Neraka. Beliau akan mengisi keempat Surga dengan perantaraannya itu”

“Ketika beliau sedang melukiskan peristiwa besar itu, Aku menyaksikan panorama yang kuat di mana Aku menyaksikan Peristiwa Hari Pembalasan dan melihat Shah Naqsyaband mengeluarkan cahaya, dan menyelamatkan orang-orang. Ketika Aku sedang mengamati hal itu, Aku merasakan cinta yang sangat dalam kepada Shah Naqsyaband, lalu Aku berlari menuju beliau dan mencium tangannya. Kemudian panorama itu menghilang dan Syaikhku pergi”

“Aku melanjutkan meditasiku pada hari itu dengan berdzikir, membaca al-Qur’an dan melakukan shalat. Di malam harinya, setelah melaksanakan shalat ‘Isya, Aku mengalami keadaan tidak sadarkan diri dan menempatkan Aku ke dalam keadaan panorama spiritual. Aku melihat Shah Naqsyaband memasuki ruangan. Beliau berkata kepadaku, ‘Anakku, datanglah kepadaku.’ Kemudian rohku meninggalkan jasad dan Aku melihat tubuhku berada di bawahku dan tidak bergerak. Aku lalu menemani Shah Naqsyaband, Kami menjelajahi ruang dan waktu, bukan dengan kekuatan melihat, lalu mencapai tempat yang dilihat itu, tetapi dengan kekuatan dimana ketika kami baru memikirkan suatu tempat, kami tiba di tempat itu. Selama tiga malam dan empat hari non-stop, kami melakukan perjalanan dengan cara ini”

“Sudah menjadi kebiasaan dalam meditasiku, ketika Aku menginginkan makanan dan minuman sehari-hari, Aku tinggal mengetuk pintu. Mendengar ketukan dari lantai bawah, istriku akan membawakan makanan dan minuman untukku. Hari pertama dia tidak mendengar ketukan, hari kedua juga begitu. Akhirnya dia merasa sangat khawatir dan membuka pintu dan menemukan Aku terbaring di sana tanpa gerakan. Dia berlari menuju Syaikh Syarafuddin dan berkata, ‘Mari dan lihatlah anakmu. Dia terlihat seperti orang yang sudah meninggal. Beliau berkata kepadanya, ‘Dia tidak meninggal. Kembalilah, dan jangan berbicara kepada siapa pun. Dia akan kembali”

“Setelah tiga hari dan empat malam menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, Shah Naqsyaband berhenti. Beliau berkata, ‘Tahukah kamu siapa yang tampak di cakrawala itu?’ Tentu saja aku tahu, tetapi untuk menghormati Guru, aku berkata, ‘Wahai Guruku, engkau paling tahu.’ Lalu ketika orang itu mendekat beliau berkata, ‘Sekarang apakah kamu mengenalinya?’ Aku berkata lagi, ‘Engkau lebih tahu, wahai Guruku,’ walaupun Aku melihat itu adalah Syaikhku Sarafuddin. Beliau berkata, ‘Itu adalah Syaikhmu, Syaikh Syarafuddin, Tahukah kamu siapa makhluk yang berada di belakangnya?’ menunjuk kepada suatu makhluk raksasa yang lebih besar daripada gunung yang paling tinggi di bumi ini, yang beliau tarik dengan sebuah tali. Untuk menghormatinya aku berkata lagi, ‘Engkau paling tahu, wahai Syaikhku.’ Beliau berkata, ‘Itu adalah Setan, dan Syaikhmu diberi kekuasaan atasnya, belum ada orang yang diberi otorisasi semacam itu sebelumnya. Sebagaimana setiap Wali diberi kekuasaan atas sesuatu yang khusus, begitu pula Syaikhmu. Bidang khususnya adalah bahwa setiap hari dan setiap malam, atas nama seluruh orang yang telah melakukan dosa karena pengaruh Setan, Syaikhmu diberi otorisasi untuk membersihkan orang-orang itu atas dosa-dosa mereka, mengembalikan dosa itu kepada Setan, dan membawa orang-orang itu dalam keadaan bersih kepada Rasulullah.

Kemudian dengan kekuatan spiritualnya, beliau mengangkat hati mereka, mempersiapkan mereka agar bisa masuk ke dalam lingkaran cahaya yang akan Aku sebarkan di Hari Pembalasan nanti. Aku akan mengisi empat surga dengan cara ini. Inilah yang menjadi spesialisasi Syaikh Syarafuddin. Selain itu, orang-orang yang tidak termasuk dalam keempat Surga tersebut akan memasuki Perantaraan Syaikh Syarafuddin, dengan seizin Rasulullah yang telah diberi kekuatan ini oleh Allah. Ini adalah kekuasaan yang luar biasa yang telah diberikan kepada Syaikh Syarafuddin. Ketika beliau merantai leher Setan, beliau membatasi pengaruh dosa di bumi ini.”

Jangan bagi Cinta Terhadap Syaikhmu

“Kemudian beliau berkata, kamu menanam benih cinta yang ada di hatimu. seperti halnya kincir air yang mengairi sepetak sawah tetapi tidak bisa mengairi dua petak sawah, cinta yang kamu tumbuhkan terhadap Syaikhmu seharusnya hanya untuk Syaikhmu. Jika kamu membaginya untuk dua orang Syaikh, mungkin cinta itu tidak akan mencukupi, seperti halnya kincir air yang tidak bisa mengairi dua petak sawah. Jangan berikan hatimu kebebasan untuk pergi ke sana ke mari. Cintamu akan mencapaiku melalui Mata Rantai Emas dan akan berlanjut kepada Rasulullah. Jangan membagi dua cintamu untuk kami berdua. Sebelumnya tak seorang Wali pun yang diberi otorisasi seperti yang diberikan kepada Syaikhmu untuk ummat Muhammad saw, untuk seluruh ummat manusia”

“Engkau harus menjadi awas akan dirimu. Jika engkau mengikuti syari’ah maka engkau harus bersyukur kepada Allah swt , bila tidak maka engkau harus memohon ampun” “Yang penting bagi seorang pencari dalam keadaan ini adalah menjaga periode waktu terkecil agar tetap aman. Dia harus menjaga dirinya dan menilai apakah dia dalam Hadirat Allah atau dalam hadirat egonya, setiap saat dalam hidupnya. Syah Naqsyband berkata, ‘Engkau harus mengevaluasi bagaimana engkau menghabiskan waktumu: dalam Kehadiran atau dalam Kelalaian”

Kesadaran akan Jumlah (wuquf `adadi)

“Kesadaran akan jumlah hitungan dzikir, berarti para pencari yang sedang berdzikir harus memperhatikan bilangan dzikir yang tepat yang diperlukan dalam dzikir khafi. Menjaga hitungan dzikir ini bukan untuk perhitungan itu sendiri tetapi demi menjaga hati agar tetap aman dari pikiran buruk dan untuk meningkatkan konsentrasi dalam usaha mencapai jumlah pengulangan yang telah ditetapkan oleh Syaikh secepat mungkin”

“ Pilar dzikir melalui perhitungan adalah untuk membawa hati kepada Hadirat Ilahi yang disebutkan dalam dzikir tersebut dan tetap menghitung, satu demi satu, untuk membawa perhatian seseorang kepada realitas bahwa setiap orang membutuhkan Dia Yang Maha Esa

yang tanda-tanda KebesaranNya tampak pada setiap makhluk”

“Syah Naqsyband berkata, ‘Memperhatikan jumlah dzikir adalah langkah pertama dalam tahap mendapatkan Pengetahuan Surgawi (`ilm ul-ladunni).” Ini berarti perhitungan itu mengantarkan seseorang untuk mengenali bahwa hanya Satu yang dibutuhkan dalam hidup. Semua persamaan matematis memerlukan nomor Satu. Semua makhluk membutuhkan Zat Yang Maha Esa”

Kesadaran akan Hati (wuquf qalbi)

“Kesadaran akan hati berarti mengarahkan hati para pencari menuju Hadirat Ilahi, di mana dia tidak akan melihat yang lain kecuali Yang Paling Dicintainya. Hal itu berarti untuk mengalami manifestasi-Nya (tajjali) dalam semua keadaan. Ubayd Allah al-Ahrar berkata, “Tingkat Kesadaran Hati adalah tingkatan untuk hadir dalam Hadirat Ilahi sedemikian rupa sehingga engkau tidak bisa melihat yang lain selain Dia. Dalam situasi demikian seseorang memusatkan tempat dzikirnya dalam hati sebab inilah pusat kekuatan.

Semua pikiran dan inspirasi, baik maupun buruk, jatuh dan muncul satu demi satu, berputar dan mengalir, bergerak di antara terang dan gelap, dalam perputaran yang konstan, di dalam hati. Dzikir diperlukan untuk mengontrol dan mengurangi gejolak dalam hati”

Makna dari Ummat Muhammad saw

“Syah Naqsyband berkata,’ Ketika Rasulullah bersabda, ‘Porsi ummatku yang ditakdirkan untuk api neraka adalah seperti porsi Ibrahim as yang ditakdirkan untuk api Namrud,’ beliau memberi kabar gembira tentang penyelamatan bagi ummatnya sebagaimana Allah swt telah menggariskan penyelamatan untuk Ibrahim as, Ya naru kunii bardan wa salaman ‘ala Ibrahiim ('Wahai api, jadilah dingin dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim ’) [21:69]”

“Ini dikarenakan Rasulullah saw bersabda, 'Ummatku tidak akan setuju dengan suatu kesalahan,’ menegaskan bahwa Ummat tidak akan menerima perbuatan yang salah, dan dengan demikian Allah swt akan menyelamatkan ummat Muhammad saw dari api neraka."

“Syaikh Ahmad Faruqi mengatakan bahwa Syah Naqsyband berkata, Ummat Muhammad saw meliputi semua orang yang muncul setelah Rasulullah Dia terdiri atas 3 macam ummat, yaitu:

1. Ummatu-d-Da’wah: yaitu setiap orang yang benar-benar muncul setelah Rasulullah dan mendengar pesannya. Dari berbagai ayat dalam al-Quran, sudah jelas bahwa Rasulullah datang kepada semua manusia tanpa kecuali, lebih jauh lagi ummatnya cukup menjadi saksi bagi ummat-ummat yang lain, dan Rasulullah adalah orang yang menjadi saksi bagi setiap orang, termasuk ummat-ummat yang lain dan saksi-saksi yang mewakili mereka masing-masing.

2. Ummatu-l-Ijaba: yaitu orang-orang yang menerima pesannya.

3. Ummatu-l-Mutaba’a: yaitu orang-orang yang menerima pesan dan mengikuti jejak Rasulullah saw”

“Semua golongan ummat Rasulullah saw tersebut akan selamat. Jika mereka tidak diselamatkan melalui amalnya, mereka akan diselamatkan melalui Perantaraan Rasulullah saw, menurut sabdanya, ‘Perantaraanku adalah untuk para pendosa besar di antara Ummatku”

Dalam Mencapai Hadirat Ilahi

”Beliau berkata, Apa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah, as-shalatu mi’raj ul-mu'min (‘Shalat adalah mi’raj bagi orang yang beriman’), adalah indikasi yang jelas mengenai tingkatan Shalat yang sejati, di mana orang-orang yang shalat naik ke Hadirat Ilahi dan padanya terdapat manifestasi rasa hormat yang mendalam, kepatuhan dan kerendahan hati, di mana hatinya mencapai keadaan kontemplasi melalui shalatnya”

”Ini akan mengantarkannya kepada suatu panorama dari Rahasia Ilahi. Hal ini adalah deskripsi mengenai shalatnya Rasulullah saw dalam sirah (sejarah hidupnya). Dikatakan bahwa ketika Rasulullah mencapai keadaan tersebut, orang-orang di luar kota pun dapat mendengar suara yang berasal dari dadanya yang menyerupai dengungan lebah”

“Salah satu ulama di Bukhara bertanya kepada beliau, “Bagaimana seorang hamba mencapai Hadirat Ilahi dalam shalatnya?” Beliau menjawab, Dengan memakan dari hasil jerih payahmu dan dengan mengingat Allah dalam shalat dan di luar shalatmu, dalam setiap penyucian diri

dan dalam setiap peristiwa hidupmu”

Tentang Politheisme Tersembunyi - Syirik

“Syaikh Salah, seorang pelayannya melaporkan, Suatu ketika Syah Naqsyband berkata kepada para pengikutnya, ‘Suatu hubungan antara hatimu dengan sesuatu selain Allah adalah hijab terbesar bagi seorang pencari,’ setelah itu beliau membaca bait puisi berikut, ‘Hubungan dengan selain Allah , ’Adalah hijab (sekat) terkuat, ’Dan meninggalkannya, ’Adalah Jalan Pembuka bagi suatu Pencapaian”

Tentang al-Hallaj

“Segera setelah beliau membacakan bait tersebut, terlintas dalam benakku bahwa beliau merujuk pada hubungan antara Iman dan penyerahan diri pada Kehendak Ilahi. Beliau menoleh kepadaku, tertawa dan berkata, ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Hallaj? “Aku menolak agama Allah, dan penolakan itu adalah wajib bagiku meskipun tampak menyeramkan bagi kebanyakan Muslim”

“Wahai Syaikh Salah, apa yang terlintas dalam benakmu, bahwa hubungan itu adalah dengan Iman dan Islam, bukanlah hal yang penting. Yang penting adalah Iman Sejati, dan Iman Sejati bagi Orang yang Benar adalah membuat hatinya menyangkal apapun selain Allah. Itulah yang membuat Hallaj berkata, “Aku menyangkal agama-Mu dan penyangkalan itu adalah wajib bagiku, meskipun tampak menyeramkan bagi Muslim”

“ Hatinya Hallaj tidak menginginkan yang lain kecuali Allah. ‘Tentu saja Hallaj tidak menyangkal Imannya dalam Islam, tetapi beliau menekankan bahwa hatinya hanya terkait kepada Allah saja. Jika Hallaj tidak menerima segala sesuatu selain Allah, bagaimana mungkin orang mengatakan bahwa sebenarnya beliau menyangkal agama Allah ? Pernyataannya tentang realitas Kesaksiannya mencakup segalanya dan membuat kesaksian Muslim yang awam menjadi mainan anak-anak”

“Syaikh Salah melanjutkan, Syah Naqsyband berkata, ‘Hamba-hamba Allah tidak bangga dengan apa yang mereka lakukan, mereka melakukannya karena cinta kepada Allah semata”

“Rabi’a al-‘Adawiyya berkata, “Ya Allah, Aku tidak beribadah untuk mencari balasan Surga-Mu, tidak pula karena takut akan siksa-Mu, tetapi Aku menyembah-Mu hanya untuk Cinta-Mu.’ Jika ibadahmu untuk menyelamatkan dirimu sendiri atau untuk mendapat balasan tertentu bagi dirimu sendiri, maka itu adalah syirik yang tersembunyi, karena engkau telah menyekutukan Allah baik dengan pahala maupun azab. Inilah yang dimaksud oleh Hallaj”

“Syaikh Arslan ad-Dimasyqi berkata sebagaimana yang diceritakan oleh Syah Naqsyband, ‘Ya Allah, agama-Mu bukanlah apa-apa, melainkan syirik yang tersembunyi, dan untuk tidak beriman kepadanya adalah wajib bagi seluruh hamba yang benar. Orang-orang yang beragama tidak menyembah-Mu, mereka hanya beribadah untuk mendapat Surga atau agar selamat dari Neraka. Mereka menyembah keduanya sebagai berhala, dan itulah seburuk-buruknya kemusyrikan. Engkau telah berkata, man yakfur bi-t-taghuti wa yu'min billahi faqad istamsaka bil-‘urwati-l-wutsqa (“Barangsiapa yang ingkar terhadap Taghut (berhala) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada Pegangan (Tali) yang Kokoh”) [2:256]. Untuk ingkar kepada berhala-berhala ini dan beriman kepada-Mu adalah wajib bagi orang-orang yang benar”

“Syaikh Abul-Hasan asy-Syadzili, salah seorang Syaikh Sufi agung pernah ditanya oleh Syaikhnya, “Wahai anakku, dengan apa engkau akan bertemu Tuhanmu?” Beliau berkata, “Aku datang kepada-Nya dengan kemiskinanku Syaikhnya menjawab, Wahai anakku, jangan kau ulangi lagi hal ini. Ini adalah berhala terbesar, karena engkau masih mendatangi-Nya dengan sesuatu Bebaskan dirimu terhadap segala sesuatu baru kemudian engkau datang kepada-Nya”

”Para fuqaha (ahli hukum) dan pemegang ilmu eksternal memegang teguh pada perbuatan mereka dan dengan dasar tersebut mereka mengembangkan konsep pahala dan azab. Jika mereka baik, mereka akan mendapat kebaikan dan bila mereka buruk mereka menemukan keburukan, apa yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah perbuatannya dan apa yang menyakitinya adalah perbuatannya juga. Bagi penganut thariqat, hal ini adalah syirik tersembunyi, karena seseorang menyekutukan sesuatu dengan Allah. Meskipun untuk melakukan (perbuatan baik) adalah suatu kewajiban, tetap saja hati tidak boleh terikat dengan perbuatan tersebut. Perbuatan itu hanya dilakukan karena Allah dan untuk Cinta-Nya, tanpa pamrih apa pun”

Tentang Thariqat Naqshbandi

“Syah Naqsyband berkata, Thariqat kita sangat langka dan sangat berharga. Ini adalah ‘urwati-l-wutsqa (‘Memegang Teguh’), jalan untuk memegang jejak Rasulullah saw dan para Sahabatnya dengan teguh dan kokoh. Mereka membawaku ke jalan ini dari pintu Nikmat, karena pada awal dan akhirnya, Aku tidak melihat apapun kecuali Nikmat Allah. Di jalan ini pintu-pintu besar dari Pengetahuan Surgawi akan dibukakan bagi para pencari

yang mengikuti jejak Rasulullah saw”

”Untuk mengikuti Sunnah Rasulullah saw adalah jalan terpenting yang akan membukakan pintu kepadamu. Barangsiapa yang tidak datang ke jalan kita, maka agamanya berada dalam bahaya”

“Beliau pernah ditanya, ‘Bagaimana seseorang datang ke jalanmu?’ Beliau menjawab, ‘Dengan mengikuti Sunnah Rasulullah saw” “Kami telah membawa penghinaan dalam Jalan ini, dan sebagai balasannya Allah swt memberkati kita dengan Kemuliaan-Nya”

“Beberapa orang berkata tentang beliau bahwa kadang-kadang beliau terlihat arogan. Beliau berkata, ‘Kami bangga karena Dia, karena Dia adalah Tuhan kami, yang memberi kami Dukungan-Nya!” “Beliau berkata, ’Untuk mencapai Rahasia Ke-Esaan kadang-kadang mungkin, tetapi untuk meraih Rahasia Pengetahuan Spiritual (ma’rifat) adalah sangat sulit sekali”

“Pengetahuan Spiritual bagaikan air, dia mengambil warna dan bentuk cangkirnya. Pengetahuan Allah swt begitu luar biasa, sehingga berapa pun yang kita ambil, itu hanya seperti sebuah tetes dalam Samudra yang Mahaluas. Dia bagaikan taman yang sangat luas, berapa pun yang kita pangkas, seolah-olah kita hanya memangkas sekuntum bunga saja”

Pandangannya terhadap Makanan

“Syah Naqsyband berada dalam tingkatan tertinggi dalam menolak keinginan terhadap dunia ini. Beliau mengikuti jalan yang shaleh, terutama dalam hal tata cara makannya. Beliau mengambil segala jenis pencegahan sehubungan dengan makanannya. Beliau hanya mau makan dari barley yang ditanamnya sendiri. Beliau akan memanennya, menggilingnya, membuat adonan, menanak dan memanggangnya sendiri. Semua ulama dan para pencari di masanya membuat jalan mereka menuju rumahnya, agar bisa makan di mejanya dan mendapatkan berkah dari makanannya”

“Beliau mencapai suatu kesempurnaan dalam hal penghematan; di musim dingin, beliau hanya meletakkan selembar karpet tua di lantai rumahnya dan ini tidak memberi perlindungan dari udara dingin yang menusuk. Di musim panas beliau meletakkan tikar yang sangat tipis di lantai”

“ Beliau mencintai orang yang miskin dan membutuhkan. Beliau mendorong para pengikutnya untuk mencari nafkah dengan cara yang halal, yaitu dengan membanting tulang. Beliau mendorong mereka untuk membagikan uangnya kepada fakir miskin. Beliau memasak untuk fakir miskin dan mengundang mereka untuk makan bersama. Beliau melayani mereka dengan tangannya sendiri yang suci dan mendorong mereka agar tetap berada di Hadirat Allah”

“Jika salah seorang di antara mereka memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan cara yang tidak baik, beliau akan menegurnya, melalui pandangan spiritualnya terhadap apa yang telah mereka lakukan dan mendorong mereka untuk tetap ingat kepada Allah ketika sedang makan”

“Beliau mengajarkan bahwa, Salah satu pintu yang paling penting menuju ke Hadirat Allah adalah makan dengan Kesadaran. Makanan memberikan kekuatan bagi tubuh, dan makan dengan kesadaran memberikan kesucian bagi tubuh”

“Suatu saat beliau diundang ke sebuah kota bernama Ghaziat di mana salah seorang muridnya telah menyiapkan makanan baginya. Ketika mereka duduk untuk makan, beliau tidak menyentuh makanannya. Tuan rumah menjadi terkejut. Syah Naqsyband berkata, “Wahai anakku, Aku ingin tahu bagaimana engkau menyiapkan makanan ini. Sejak engkau membuat adonan dan memasaknya sampai engkau menyajikannya, engkau berada dalam keadaan marah. Makanan in bercampur dengan kemarahan itu. Jika kita memakan makanan itu, Setan akan menemukan jalan untuk masuk melaluinya dan menyebarkan seluruh sifat buruknya ke seluruh tubuh kita”

“Ketika diundang makan oleh Raja, semua orang makan kecuali Syah Naqsyband, hal ini mendorong Syaikh ul-Islam pada saat itu, Qutb ad-din, untuk bertanya, “Wahai Syaikh kami, mengapa engkau tidak makan?” Syah Naqsyband berkata, “Aku mempunyai seorang hakim tempat Aku berkonsultasi. Aku bertanya kepadanya dan hakim itu berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, mengenai makanan ini terdapat dua kemungkinan. Jika makanan ini tidak halal dan engkau tidak makan, bila engkau ditanya engkau dapat mengatakan Aku datang ke meja seorang raja tetapi Aku tidak makan. Maka engkau akan selamat karena engkau tidak makan. Tetapi bila engkau makan dan engkau ditanya, maka apa yang akan kau katakan? Maka engkau tidak akan selamat.’ Pada saat itu, Qutb ad-Din begitu terkesan dengan kata-kata ini dan tubuhnya mulai bergetar. Beliau harus meminta izin kepada raja untuk menghentikan makannya. Raja sangat heran dan bertanya, “Apa yang harus kita lakukan dengan semua makanan ini?” Syah Naqsyband berkata, “Jika ada keraguan mengenai kesucian makanan ini, lebih baik berikan kepada fakir miskin. Kebutuhan mereka akan makanan akan membuatnya halal bagi mereka”

Tentang Puasa Sunnah

“Sebagian besar hari-harinya dijalani dengan berpuasa. Jika seorang tamu mendatanginya dan beliau mempunyai sesuatu yang bisa ditawarkan kepadanya, maka beliau akan duduk menemaninya, membatalkan puasanya dan makan bersamanya. Beliau berkata kepada para pengikutnya bahwa para Sahabat Rasulullah saw biasa melakukan hal yang sama”

“Syaikh Abul Hasan al-Kharqani berkata dalam bukunya, Prinsip-Prinsip Thariqat dan Prinsip-Prinsip dalam Meraih Makrifat, Jagalah keharmonisan dengan para sahabat, tetapi tidak dalam berbuat dosa. Ini berarti bahwa jika engkau sedang berpuasa, lalu ada seseorang yang berkunjung sebagai teman, maka engkau harus duduk bersamanya dan makan bersamanya demi menjaga adab dalam berteman dengannya. Salah satu prinsip dalam puasa, atau ibadah lainnya adalah menyembunyikan apa yang dilakukan oleh seseorang. Jika seseorang membukanya, misalnya dengan berkata kepada tamunya bahwa dia sedang berpuasa, maka kebanggaan bisa masuk ke dalam dirinya sehingga menghancurkan puasanya. Inilah alasan di balik prinsip tersebut”

“Suatu hari beliau diberikan seekor ikan yang telah dimasak sebagai hadiah.

Disekitarnya terdapat banyak orang miskin, di antara mereka terdapat seorang anak yang sangat shaleh dan sedang berpuasa. Syah Naqsyband memberikan ikan itu kepada orang-orang miskin dan mengatakan kepada mereka, “Silakan duduk dan makan,” demikian pula kepada anak yang sedang berpuasa itu, “Duduk dan makanlah.” Anak itu menolak. Beliau berkata lagi, “Batalkan puasamu dan makanlah,“ lagi-lagi anak itu menolak. Beliau bertanya kepadanya, “Bagaimana jika Aku memberimu salah satu di antara hari-hariku di bulan Ramadhan? Maukah engkau duduk dan makan?” Sekali lagi dia menolak. Beliau berkata kepadanya, “Bagaimana jika Aku memberimu seluruh Ramadhanku?” Namun masih saja dia menolak. Beliau berkata, ‘Bayazid al-Bistami pernah suatu kali dibebani orang sepertimu’. Sejak saat itu anak itu terlihat berpaling untuk mengejar kehidupan duniawi.

Dia tidak pernah berpuasa dan tidak pernah beribadah lagi”

“Insiden yang dirujuk oleh Syah Naqsyband terjadi ketika Syaikh Abu Turab an-Naqsybandi mengunjungi Bayazid al-Bistami. Pelayan beliau menawarkan makanan. Abu Turab berkata kepada pelayan itu, “Datanglah ke sini, duduk dan makan bersamaku.” Pelayan itu menolak, “Tidak, Aku sedang berpuasa.” Beliau berkata, “Makanlah, dan Allah akan memberimu pahala puasa selama satu tahun.” Dia tetap menolak. Beliau berkata lagi, “Ayo makan, Aku akan berdo’a kepada Allah agar Dia memberimu pahala dua tahun puasa.” Kemudian Hadrat Bayazid berkata, “Tinggalkan dia. Allah tidak lagi memeliharanya.” Hari-hari berikutnya kehidupannya semakin buruk dan dia akhirnya menjadi seorang pencuri”

Keajaiban-Keajaiban dan Kemurahannya

“Keadaan Syah Naqsyband berada di luar jangkauan untuk dilukiskan dan tingkat pengetahuannya pun tidak dapat dilukiskan. Salah satu keajaiban terbesarnya adalah eksistensinya itu sendiri. Beliau sering menyembunyikan tindakannya dengan tidak memperlihatkan kekuatan ajaibnya. Namun demikian banyak keajaibannya yang tercatat”

“Syah Naqsyband berkata, Suatu hari Aku pergi bersama Muhammad Zahid ke gurun. Beliau adalah seorang murid yang dapat dipercaya dan kami memiliki sebuah kapak beliung (pickaxe) yang kami gunakan untuk menggali. Ketika kami sedang bekerja dengan beliung itu, kami berdiskusi tentang tingkat pengetahuan yang dalam seperti itu di mana kami melempar beliung dan masuk lebih dalam ke dalam pengetahuan spiritual. Kami bergerak semakin dalam sampai pembicaraan kami mengantarkan kami pada asal maslah ibadah.

“Dia bertanya kepadaku, ‘Wahai Syaikhku, sampai batas mana yang bisa dicapai oleh ibadah?’ Aku berkata, ‘Ibadah mencapai tingkat kesempurnaan di mana orang yang beribadah dapat berkata kepada seseorang ‘meninggal’ dan orang itu akan meninggal.’ Tanpa sadar Aku menunjuk pada Muhammad Zahid . Dengan segera dia meninggal. Dia berada dalam keadaan meninggal sejak matahari terbit hingga tengah hari. Hari itu sangat panas. Aku merasa cemas karena tubuhnya menjadi rusak akibat panas yang berlebihan. Aku menariknya ke bawah bayangan pohon dan Aku duduk di sana merenungkan persoalan ini. Ketika Aku merenung sebuah inspirasi dari Hadirat Ilahi masuk ke dalam hatiku dan mengatakan kepadaku agar berkata kepadanya, ‘Wahai Muhammad, hiduplah!' Aku mengucapkannya 3 kali. Hasilnya, jiwanya mulai memasuki tubuhnya, dan kehidupan mulai kembali lagi padanya. Secara perlahan dia kembali ke keadaan semula. Aku pergi ke Syaikhku dan menceritakan apa yang terjadi. Beliau berkata, ‘Wahai anakku, Allah memberimu suatu rahasia yang belum pernah diberikan kepada orang lain”

“Syaikh Alauddin al-'Attar berkata, Suatu ketika raja Transoxiana, Sultan Abdullah Kazgan, datang ke Bukhara. Beliau memutuskan untuk berburu di sekitar Bukhara dan banyak orang yang menemaninya. Syah Baha'uddan Naqsyband berada di desa sekitar. Ketika orang pergi berburu, Syah Naqsyband pergi ke puncak bukit dan duduk di sana. Ketika beliau sedang duduk di sana, dalam benaknya terlintas pikiran bahwa Allah  memberikan kemuliaan yang berlimpah kepada para awliya. Karena kemuliaan itu, semua raja di dunia ini akan membungkuk kepada mereka. Belum lagi pikiran itu hilang dari hatinya, seorang penunggang kuda dengan mahkota di kepalanya seperti seorang raja, datang ke hadiratnya dan turun dari kudanya. Dengan rendah hati dia menyalami Syah Naqsyband dan berdiri di hadiratnya dengan sangat sopan. Dia membungkuk di hadapan Syaikh tetapi Syaikh tidak menoleh kepadanya. Beliau membiarkannya berdiri selama satu jam. Akhirnya, Syah Naqsyband melihatnya dan berkata, ‘Apa yang engkau lakukan di sini?’ Dia berkata, ‘Aku seorang raja, Sultan Kazgan. Aku sedang pergi berburu, dan Aku mencium aroma yang sangat indah. Aku mengikutinya ke sini dan Aku menemukan engkau duduk di tengah cahaya yang sangat kuat.’ Pikirannya yang tadi, ‘Semua raja di dunia ini akan membungkuk kepada para awliya’ langsung menjadi kenyataan. Itulah bagaimana Allah memuliakan pikiran para awliya-Nya”

“Salah satu pengikutnya yang melayaninya di kota Merv melaporkan,

Suatu hari Aku ingin menemui keluargaku di Bukhara setelah mendengar bahwa saudaraku Syamsuddin meninggal. Aku membutuhkan izin dari Syaikhku untuk pergi. Aku berbicara dengan Amir Hussain, Pengeran dari Heart, untuk memintakan izin kepada Syah Naqsyband atas namaku. Dalam perjalanan sepulang shalat Jumat, Amir Hussain mengatakan kepadanya tentang kematian saudaraku dan bahwa Aku meminta izin untuk pergi menemui keluargaku. Beliau berkata, ‘Tidak, hal itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin engkau berkata bahwa dia telah meninggal karena Aku melihatnya masih hidup. Lebih dari itu, Aku bahkan dapat mencium wangi tubuhnya. Aku akan membawanya ke sini sekarang.’ Beliau baru saja mengakiri ucapannya ketika saudaraku muncul. Dia mendekati Syaikh, mencium tangannya dan menyalami Amir Hussain. Aku memeluk saudaraku dan itu adalah

kebahagaiaan yang sangat besar di antara kami.

”Syaikh Alauddin Attar berkata, Syaikh Syah Naqsyband suatu kali duduk di sebuah asosiasi yang besar di Bukhara dan berbicara mengenai pembukaan tabir pandangan spiritual. Beliau berkata, ‘Sahabat terbaikku, Mawla 'Arif, yang berada di Khwarazm, (400 mil dari Bukhara) telah meninggalkan Khwarazm untuk gedung pemerintah, dan beliau sampai di stasiun kereta berkuda. Ketika beliau sampai di stasiun tersebut beliau tinggal di sana untuk beberapa saat dan sekarang kembali lagi ke rumahnya di Khwarazm. Beliau tidak melanjutkan perjalanannya ke Saray. Inilah bagaimana seorang wali dapat melihat dalam maqam pengetahuannya spiritualnya.’ Setiap orang kaget mendengar cerita ini tetapi kami semua tahu bahwa beliau adalah seorang wali besar, maka kami mencatat waktu dan harinya. Suatu hari Mawla 'Arif datang dari Khwarazm ke Bukhara dan kami memberitahu dia mengenai kejadian itu. Dia sangat kaget dan berkata, ‘Sebenarnya, itulah kejadian yang sesungguhnya”

“Syaikh Muhammad Zahid berkata, Di awal perjalananku dalam Thariqat ini, Aku duduk di sampingnya suatu hari di musim semi. Sebuah keinginan akan semangka masuk ke dalam hatiku. Beliau melihatku dan berkata, ‘Muhammad Zahid , pergilah ke sungai di dekat kita itu dan bawakan kepada kita apa yang engkau lihat dan kita akan memakannya.’ Dengan segera Aku pergi ke sungai itu. Airnya sangat dingin. Aku menyelam ke dalamnya dan menemukan sebuah semangka di bawah air, sangat segar, seolah-olah baru saja dipotong dari dahannya. Aku sangat bergembira dan Aku mengambilnya dan berkata, ‘Wahai Syaikhku terimalah aku”

“Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai saudaraku, bila engkau pergi mengunjungi Syaikh atau ketika engkau duduk di tengah kehadiran Syaikh, berhati-hatilah agar jangan meletakkan kakimu sedemikian rupa sehingga kakimu menghadap ke arahnya. Aku menemukan sebuah pohon dan berbaring di bawahnya dengan kaki berselonjor. Sayangnya seekor binatang datang dan menggigit kakiku. Kemudian aku tertidur lagi dengan rasa nyeri, dan ketika aku tertidur seekor binatang menggigitku lagi. Tiba-tiba aku sadar bahwa Aku telah membuat suatu kesalahan besar, Aku telah menghadapkan kakiku ke arah Syaikhku. Dengan segera Aku bertaubat dan binatang yang menggigitku itu pun pergi “

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

21-Nov-2008 / 15:52 WIB
Kurs Jual Beli
USD 13400.00 12400.00
SGD 8766.50 8085.50
HKD 1730.15 1598.75
CHF 10937.20 10096.20
GBP 19928.15 18367.15
AUD 8388.10 7713.10
JPY 141.38 129.73
SEK 1636.50 1502.50
DKK 2269.80 2080.70
CAD 10518.85 9693.85
EUR 16815.92 15522.92
SAR 3584.45 3295.45
sumber: KlikBCA.com

Prakiraan Cuaca

sumber: bmg.go.id

Visitors


IP Address Kamu : 38.103.63.61