Panitia Qurban

 

 

Qurban

 

Member Login

Latest News

HADITH HARI INI
Custom Search

Designed by:
KD Kuas Digital
Imajinasi Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Maulana Sheikh Muhammad Nazim al Haqqani   

ImageAs Salam alaykum. Dustur ya Sayyidi.Audhu billahi minash shaitana rajim. Bismillahi Rahmani Rahim.

 

 

Semoga Allah memberikan karunia-Nya pada Anda, demi kehormatan dari hamba-Nya yang paling terhormat dan Ia cintai, Penghulu dari alam semesta, Penghulu dari seluruh makhluq.

Seluruh makhluq ciptaan adalah manifestasi (tajalli) yang datang dari wilayah-wilayah yang tak diketahui, samudera-samudera Allah 'Azza wa Jalla yang tak diketahui. Semuanya termanifestasikan hanya demi kehormatan beliau (salla-Allahu 'alayhi wasallam). Mata air utama yang datang dari wilayah tak diketahui yang ada. Wujud (keberadaan) sejati hanyalah dari Allah Yang Mahakuasa, tak ada yang wujud bersama-Nya, tak ada yang dapat mengatakan, "Aku di sini bersama-Mu." - Tak mungkin. Apakah Anda kira bahwa zarrah terkecil di antara makhluq-Nya, katakanlah misalnya atom-atom, tak terlihat oleh manusia, partikel-partikel massa yang tak terlihat itu, tak mungkin dapat dilihat sebagai wujud materi.


 

Suatu wujud material hanya dapat meraih wujudnya (eksistensinya) lewat lima indera Anda. Dan di luar kelima indera Anda, maka ia hanya menjadi sesuatu, yang harus Anda terima (sebagai suatu konsep, penj.), karena logika pikiran Anda mengatakan bahwa jika Anda tidak menerima eksistensi partikel-partikel massa yang demikian kecil seperti itu, Anda tidak dapat mencerna terjadinya bangunan alam semesta yang demikian besar ini, ruang angkasa dan segala sesuatu di dalamnya. Mentalitas manusia - mentalitas yang sehat - memerintahkan dan memaksa pikiran manusia untuk dapat menerima konsep eksistensi partikel-partikel massa amat kecil tersebut. Untuk menerima sesuatu yang tidak mungkin terjangkau dan tersentuh oleh keberadaan material (biasa, penj.), yaitu keberadaan partikel-partikel tsb.

 

Karena itulah, ketika Allah SWT berfirman pada permulaan Quran Suci: Bismillahi Rahmani Rahim. Alif Laam Meem. Alif-lam-meem Dzalika alkitabu la rayba feehi hudan lilmuttaqeena Alladzeena yu'minoona bilghaybi...
[Ini adalah Kitab; di dalamnya ada petunjuk meyakinkan, tanpa keraguan, bagi mereka yang takut pada Allah; Mereka yang percaya pada yang Ghaib (Tak Terlihat)...], Allah 'Azza wa Jalla memuji hamba-hamba-Nya yang beriman pada realitas ghaib. Itu berarti, adalah sesuatu yang tidak mungkin, seseorang menjadi orang yang amat materialis, sedangkan di lain pihak ia mesti menata pengetahuan dan ilmunya berdasarkan atas suatu fondasi realitas ghaib yang tak terlihat! Karena (misalnya) mentalitas manusia memerintahkan, bahwa jika Anda tidak mempercayai adanya akar-akar, pemahaman Anda atau penglihatan Anda akan suatu pohon adalah tidak benar. Bahkan pengetahuan positif disusun atas realitas dan kenyataan tak terlihat. Jika Anda tidak menerimanya, ini adalah suatu kebodohan. Karena pada konsep atom (misalnya), Anda tak dapat melihatnya, tak dapat menyentuhnya, tak dapat mencium baunya, tak dapat mendengarnya, atau merasakannya...

 

Padahal untuk setiap gerakan, pasti akan disertai suara, sedangkan atom bergerak dengan kecepatan sangat tinggi... hingga mungkin - sebagaimana pernyataan mereka  kecepatannya mencapai kecepatan cahaya, seperti pada elektron. Anda harus membangun dan menyusun pengetahuan Anda, tanpa menaruh suatu  dasar atau fondasi, pengetahuan Anda tidak bermakna apa-apa, ia hanya akan menjadi imajinasi. Karena itu, hal ini amat penting:Alladziina yu'minuuna bi al-ghaybi... [orang-orang yang percaya pada yang tak terlihat/ghaib]... akal yang sehat. Seorang ilmuwan sejati, seorang yang benar-benar terpelajar, haruslah mendasarkan pengetahuannya atas suatu realitas ghaib (tak terlihat); ia mesti memerintah mentalitasnya, "Kau harus mendasarkan dirimu pada suatu fondasi yang kokoh." Karena itulah, Subhanallah (Maha Suci Allah), tak seorang pun dapat mengingkari realitas ghaib, yang bisa mengingkarinya hanyalah orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Segala sesuatu pastilah bergantung pada hal-hal yang ghaib...


Hakikat keghaiban ada dalam kegelapan. Ghayb, tak terlihat, realitas yang tak diketahui. Hanya orang-orang bodoh yang mengatakan bahwa diri mereka tidak mempercayai hal-hal ghaib, mereka begitu.... bodoh!  Segala sesuatu mestilah memiliki akarnya dari suatu hakikat sejati, kalau tidak, sesuatu itu tidak ada! Siapa yang berkata, "kami hanya percaya pada apa yang kami lihat di atas permukaan bumi"; maka pasti ada sesuatu yang salah dengan mereka. Apa yang sedang kita bicarakan? Kita sedang mengatakan bahwa saat ini kita hidup, dan kita harus berusaha mencapai hakikat dari apa yang tadi kita bicarakan, ketuhanan dan manifestasi dari seluruh wujud (eksistensi), bagaimana datangnya semua itu, dan melalui pengetahuan yang sejati, hakikat sejati; maksudnya, semua yang kita lihat sebenarnya hanyalah suatu pandangan akan keping-keping terkecil tadi (atom?, penj.).

 

Bahwasanya apa yang Anda katakan tadi (partikel-partikel terkecil) adalah material utama dari makhluq ciptaan dan bagaimana ia muncul... Sumber yang pertama muncul berasal dari daerah-daerah yang tak diketahui, ia akan muncul melalui Penutup para Nabi (Khatmul Anbiya'), Yang Paling Terhormat dan Yang Terpuji - pastilah itu - hanya SATU - pasti!


Karena itu mereka membawa suatu bukti, bahwa tak mungkin ada sumber utama lainnya. Suatu sumber utama tidak mungkin ada dua. Pastilah hanya satu - Jika Anda pikir bahwa dua adalah sama, maka ia tak akan bisa terbagi menjadi dua sumber utama, ia adalah satu sumber. Jika sumber-sumber itu memiliki sifat-sifat yang sama, maka sumber itu, sumber itu pastilah bergabung dan menjadi satu. Mengapa Anda katakan dari beberapa asal yang berbeda-beda? Dari suatu sumber utamalah datangnya, dan dari sumber utama itulah, ia akan terpisah dan terbagi menjadi sumber-sumber (springs) yang tak terhitung dan bermunculan, mengalir, mengalir, mengalir... sedangkan sumber utamanya juga tidak diketahui.Itu karena Anda tak dapat menjangkaunya.

 

Karena wujud fisik atau material Anda, juga pikiran Anda tak akan mampu menjangkau pemahaman akan batu-batu utama pembangun alam-alam semesta. Saat pikiran Anda berhenti dan tak mampu lagi, maka mentalitas Anda akan memerintah pikiran Anda: Percayalah! Imanilah! Anda harus percaya/beriman. Jika Anda tidak percaya pada realitas-realitas ghaib yang tak terlihat, dan Anda mengatakan bahwa Anda hanya mempercayai apa yang sedang Anda lihat, maka hal itu adalah batil, kekeliruan, kebodohan. Anda harus percaya dan beriman.


Memerintahkan orang-orang untuk menerima konsep partikel-partikel terkecil itu (atom, elektron, dll., penj.); mereka muncul, kemudian bergabung, menyatu, bergabung, dan akhirnya muncul dan terlihat oleh mata Anda, dan mereka (partikel-partikel itu) berkata (pada Anda), "Ini, aku di sini - aku datang dari sumber yang utama." Dan Anda menjawab. "Oh! Bagaimana kalian muncul?" Maka kemudian, mentalitas  Anda sendiri akan memukuli Anda dengan cemeti sambil berkata, "Oh! Manusia berkepala lembu! Manusia berkepala Bola! Oh! Manusia berkepala kosong! Oh! Manusia berkepala keledai! Bagaimana mungkin kalian berkata seperti itu?!" Bagaimana mungkin kalian mengklaim bahwa di luar penglihatan kalian tidak ada wujud apa-apa?! Tunjukkan padaku bagaimana  mereka muncul dan terwujud, tunjukkan menurut logika pikiran kalian!


Karena itulah, orang-orang itu selalu bertanya-tanya tentang "big bang" (teori ledakan besar sebagai awal kejadian alam, penj.). Mereka bertanya demikian untuk melegitimasi pengetahuan mereka, untuk memuaskan diri mereka sendiri, mereka berpikir dan mengatakan, "Itu adalah suatu atom yang besar dan kemudian meledak..." Mereka mencoba.. mereka tak pernah mau membawa diri mereka menuju pada realitas sesungguhnya. Mereka selalu berlari mengejar khayalan dan imajinasi. Big bang? Kebodohan apa itu? Hanya suatu khayalan. Satu atom yang besar? Maka saya bertanya apakah Anda kira atom tersebut sebesar alam semesta ini? Dan apakah apakah Anda pikir bahwa atom besar itu ada dalam ruang ataukah ruang yang berada di dalamnya? Di manakah letaknya saat itu? Bagaimanakah ia diletakkan di situ? Siapa yang meletakkannya di sana?


Sungguh kedunguan yang dalam bagi orang-orang itu! Teori Big bang! [Mereka mengatakan] bahwa setelah waktu sepermiliar detik, terjadi ledakan. Siapa yang ... [memerankan dengan tangannya - menyalakan sekering]? Mereka mengajarkan pada orang-orang, kebodohan semacam itu di universitas-universitas, dengan mengatas namakan pengetahuan positif. Di manakah pengetahuan positif itu, wahai Professor? Kebodohan macam apa itu? Mereka menyangkal bahwa eksistensi batu-batu pembangun terkecil dari alam semesta ini terwujud dengan suatu perintah Ilahiah.

 

'JADILAH!' 'KUN!' 'BE!'... dan muncul dalam wujudnya. Mereka malu untuk menerima perintah suci-Nya dan saya bertanya, 'dengan perintah siapakah  big bang itu terjadi?' Saya bertanya, "Siapakah yang ada di situ sebelumnya untuk me'naruh'-nya? Ledakan itu sendiri tidaklah penting, tetapi siapa di luar itu yang telah menciptakannya? Jika ia (asal big bang) itu adalah sesuatu yang hidup,  maka ia mungkin memerintahkan dirinya sendiri, tapi Anda katakan bahwa itu adalah suatu materi. Mereka bersikeras akan materialisme. Berlarian ke sana ke mari untuk mencari bukti bahwa materialisme adalah suatu kebenaran. Tak mungkin! Itu adalah tak mungkin! Mereka hanya hidup melalui imajinasi mereka. Siapa yang menaruh big bang itu di sana? Suatu tangan tak terlihat telah menciptakannya. Katakan. Mereka mengatakan, 'tidak'. Lalu bagaimana? Jatuh dari atas? Meloncat dari bawah? Berlarian dari Selatan ke Barat? Dari Barat ke Timur? Orang-orang yang begitu angkuh tapi tak berpikiran sehat; tak pernah mau menerima realitas karena pikiran-pikiran mereka seperti orang-orang tipe Mongol.

 

Orang-orang tipe Mongol dapat mengerti akan sesuatu? Kepala-kepala mereka telah tertipu oleh materialisme dan saya bertanya bagaimana atom besar (dalam teori big bang, penj.) itu dapat ditemukan di tempat itu? Di tempat mana? Di Timur? Di Barat? Di Atas? Di Bawah? Di Kanan? Di Kiri? Dan bagaimana menaruhnya? Bagaimana ia dapat ditemukan di sana tanpa apa pun? Anda berkata bahwa mereka mempunyai bukti - pikiran mereka tidak pernah bekerja.

 

Materialisme didasarkan atas kekeliruan/kebatilan dan digunakan untuk menipu orang-orang, dan kemudian mereka menamainya 'alam' 'nature'. Apa itu alam? Kapan big bang itu terjadi? Apakah saat musim panas? Di malam hari? Di siang hari? Satu detik yang kemudian terbagi menjadi semiliar bagian? Dengan instrumen apa Anda mengukur hal ini? Kemudian mereka memakai sebuah topi yahudi dan mengatakan nya. Mungkin keledai lebih mengerti daripada Anda! Tak ada seorang pun dapat tertipu, kecuali orang-orang yang seperti mereka. Dan mereka selalu merasa ragu bahkan atas diri mereka sendiri, mereka tak pernah puas, dan hati nurani mereka tak pernah menerima, tapi mereka adalah orang-orang yang angkuh.


Nah, Penutup para Nabi (Khatamul Anbiya') adalah sumber utama realitas hakiki dari manifestasi seluruh makhluq ciptaan. Tak mungkin ada dua sumber utama pada saat yang bersamaan. Allah hanya menciptakan satu bahtera. Karena itu segala sesuatu yang ada, termanifestasi dalam wujudnya dengan Perintah Suci. Saat Sang Pencipta mengeluarkan Perintah Suci, Perintah itu muncul melalui sumber utama tadi, mengatakan 'Jadilah!' Dan lewat sumber utama itulah, bermunculan ciptaan yang tak berakhir tak berhingga jumlahnya. Lihatlah pada sebuah sungai dari atas suatu jembatan. Di pagi hari, di malam hari, apakah Anda berpikir bahwa  itu adalah sungai yang sama? Tidak, tidak akan pernah menjadi sungai yang sama, tidak, tidak mungkin. Sungai Nil, Sungai Danube, Sungai Amazon... kita berpikir bahwa sungai itu sungai yang sama, yang tetap, yang konstan? Tidak.

 

Tidak akan pernah air yang sama mengalir di sungai  itu, selalu air yang baru.Karena itulah, Anda tak dapat bertanya tentang ciptaan-ciptaan yang mengalir dari sumber utama, kapan ia mulai mengalir, kapan akan berhenti. Anda tak akan menemukan jawabannya. Bagaimana Anda dapat bertanya kapan penciptaan dimulai? Karena saat itu belum ada yang namanya 'waktu'. (Tidak ada 'kapan', penj.). Anda tak dapat bertanya 'Di mana' atau 'Kapan' karena keduanya masih belum eksis, belum wujud. Anda hanya melihat dan memandang bahwa penciptaan mengalir tanpa henti dan ia tak dapat dihentikan. Ia mengalir dari kekekalan (eternity) menuju kekekalan dan Anda lewat melaluinya, lewat, lewat, lewat... ke mana? Ke mana perginya? Anda tak dapat mengetahuinya. Hanya Sang Pencipta yang mengetahuinya, bukan makhluq.

Ah, dan sekarang, satu halaman dari wujud khayali telah meninggalkan kita, hari kemarin baru saja telah menjadi suatu wujud (keberadaan) khayalan. Hari ini pun berlari untuk segera bergabung dengan yang lainnya yang telah meninggalkan kita, dari hari, minggu, bulan, tahun, abad, ribuan tahun, semua telah bergabung, hari demi hari, suatu hari saat matahari terbenam, bergabung dengan halaman-halaman imajinasi lainnya. Dunia ini hanyalah suatu wujud yang khayali. Bagaimana dengan hingga sekarang? Sudah berapa harikah berlalu? Sudah berapa bulankah? Berapa tahunkah? Ke manakah mereka? Semua telah bergabung menjadi satu dalam suatu wadah dan penutupnya sedang terkunci. Hari kemarin tidak ada lagi, habis. Dan hari ini pun segera bergabung menjadi dunia khayalan. Suatu hari kita lewati, 'Hari terakhir telah habis bagiku'. Tertutup.

 

Begitu banyak hari, bulan, dan tahun telah berlalu, kesemuanya telah berada dalam daerah imajinasi. Mereka semua telah menjadi khayalan belaka. Mungkin kita masih dapat mengingat sebagian di antaranya, tapi untuk sebagian besar di antaranya, kita hanya berkata, "Saya lupa". Dan suatu hari nanti, Anda pun akan dilupakan. Karena keberadaan mereka, wujud mereka hanyalah suatu penampakan, suatu wujud khayali; habis...

 

Karena itulah, Anda harus berusaha untuk menyimpan sesuatu melalui keberadaan khayali kita ini, untuk membawa sesuatu, menyimpan sesuatu, yang dapat bernilai di Hadirat Ilahi. Jika Anda meninggalkan (hal ini) untuk kemudian sekedar berlarian dalam hidup Anda, tanpa mengambil atau menyimpan apa pun darinya, Anda akan bangkrut... Jangan menganggap bahwa keberadaan/eksistensi Anda adalah suatu keberadaan sejati. Anda harus memahaminya, Anda harus percaya bahwa keberadaan Anda hanyalah sekedar suatu penampakan (appearance, mirage..), suatu visi/pemandangan belaka. Hari ini segera habis, dan malam nanti pun segera bergabung dengan yang lainnya menuju samudera-samudera yang tak nampak, dan kita tetap berpikir bahwa yang sedang mengalir adalah sungai yang sama....dengan mengatakan bahwa 'saya tidaklah sama hari ini'.

 

Tidak, tapi sebenarnya telah 'hilang' 'wafat' (passed away) dan wujud khayali kita akan terus berlari hari demi hari, hari demi hari, kemudian tak ada lagi wujud; habis - kita mesti mengerti bahwa kita hidup dalam dunia-dunia khayalan untuk suatu alasan yang hanya Sang Pencipta, hanya Dia yang mengetahui maksud sesungguhnya dari penciptaan-Nya akan makhluq-makhluq. Dan maksud ini akan menjadi jelas buat Anda, saat waktu Anda habis, saat hari-hari Anda selesai, saat wujud imitasi Anda musnah dan Anda masuk ke dalam keberadaan hakiki diri Anda, yaitu ketia Anda masuk ke dalam samudera-samudera milik Allah 'Azza wa Jalla. Saat itulah Anda dapat melihat di sana, melihat siapa diri Anda, dan apa yang telah Anda perbuat.


Semoga Allah SWT memberkati Anda dan mengaruniakan kepada saya dan kepada Anda suatu pemahaman yang benar karena kita hidup sangat jauh dari hakikat-hakikat dan Setan mendorong manusia untuk berlari mengejar suatu fatamorgana (mirage), sambil berkata, "Berlarilah untuk mencapainya!" Manusia sedang berlarian dan sedang mencapai titik terakhir (fatamorgana itu, penj.) dan melihat bahwa tak lagi ada air di sana. Tak ada apa pun di sana. Sirab - Mirage - Fatamorgana. Berusahalah agar tak tertipu, berusahalah untuk memahami sesuatu, dan itu adalah kesempatan pertama sekaligus kesempatan terakhir bagi Anda untuk meraih sesuatu dari Ma'rifatullah - pengetahuan Ilahiah, menurut tingkatan kita, tingkatan yang paling rendah dapat kita raih dalam hidup ini. Semoga Allah memaafkan saya dan memberkati Anda. Untuk kehormatan dari hamba Allah SWT yang paling terhormat, Sayyidina Muhammad, sallallahu 'alayhi wasallam. Fatiha.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >